Pernahkah mendengar bahwa ibu yang sedang hamil harus mengonsumsi makanan dengan porsi dua kali lipat? Istilah tersebut muncul karena adanya anggapan bahwa ibu hamil harus makan untuk dua orang karena terdapat bayi yang sedang dikandung di dalam perut ibu. Namun, apakah hal tersebut benar?

Mitos atau fakta?

Ketika hamil, ibu memang dianjurkan untuk makan lebih banyak karena terjadi peningkatan kebutuhan gizi dibandingkan saat sebelum hamil. Asupan gizi ibu harus tercukupi, namun bukan berarti ibu hamil harus mengonsumsi makanan dengan porsi dua kali lipat dari porsi biasa. Hal tersebut justru dapat menyebabkan kenaikan berat badan yang berlebih. Berdasarkan tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang tercantum dalam Permenkes RI Nomor 28 Tahun 2019, ibu hamil membutuhkan tambahan energi sesuai dengan usia kehamilannya.

  • Trimester 1 : menambah asupan energi sebesar 180 kkal/hari
  • Trimester 2 : menambah asupan energi sebesar 300 kkal/hari
  • Trimester 3 : menambah asupan energi sebesar 300 kkal/hari

Perlu diingat bahwa perubahan asupan energi tetap disesuaikan dengan kondisi ibu hamil serta anjuran dari dokter dan ahli gizi. Apabila ibu hamil memiliki berat badan yang kurang atau status gizinya kurang, maka kebutuhan asupan energinya akan meningkat untuk mencapai status gizi normal. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah dan mengatasi terjadinya KEK pada ibu hamil yang dapat membahayakan kondisi ibu dan janin. Namun apabila ibu yang sedang hamil memiliki berat badan berlebih atau obesitas, maka perlu untuk mengurangi jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan merencanakan program penurunan berat badan yang aman sehingga tidak membahayakan ibu maupun janin yang dikandungnya.

Apa risiko yang ditimbulkan?

Terjadinya obesitas pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes gestasional.Diabetes melitus gestasional merupakan suatu keadaan intoleransi glukosa pada ibu hamil yang sebelumnya belum pernah didiagnosis menderita diabetes melitus, sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah selama kehamilan. Diabetes gestasional erat kaitannya dengan komplikasi selama kehamilan seperti preeklamsia, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.Seorang ibu dengan kategori overweight dan obesitas pada saat sebelum atau selama kehamilan akan lebih berisiko terkena diabetes gestasional dibandingkan dengan ibu yang memiliki status gizi normal dan status gizi kurang (underweight). Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara obesitas dengan tekanan darah tinggi. Selain itu, ukuran bayi yang terlalu besar (makrosomnia) dapat membuat ibu kesulitan saat proses melahirkan dan meningkatkan kemungkinan untuk melahirkan secara caesar.

Ibu hamil disarankan untuk lebih memperhatikan kualitas dan jenis kalori dari makanan yang dikonsumsi. Jika ibu sudah makan dengan kuantitas yang banyak tetapi makanan yang dikonsumsi tinggi akan kandungan lemak jenuh (misalnya seperti junk food atau fast food), tentunya hal tersebut tidak baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, asupan ibu ketika hamil perlu diperhatikan khususnya kualitas dari makanan yang dikonsumsi seperti makanan yang kaya akan kandungan protein, asam folat, kalsium, lemak tidak jenuh, serta asupan serat, vitamin, dan mineral yang dapat terpenuhi dengan mengonsumsi sayur dan buah.

Referensi

Lewandowska, M., Więckowska, B., & Sajdak, S. (2020). Pre-pregnancy obesity, excessive gestational weight gain, and the risk of pregnancy-induced hypertension and gestational diabetes mellitus. Journal of clinical medicine9(6), 1980.

de Seymour, J. V., Beck, K. L., & Conlon, C. A. (2019). Nutrition in pregnancy. Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine29(8), 219-224.

Walker, R., Blumfield, M., & Truby, H. (2018). Beliefs and advice‐seeking behaviours for fertility and pregnancy: a cross‐sectional study of a global sample. Journal of Human Nutrition and Dietetics31(4), 486-495.

Kinta Ardhiakusuma

Undergraduate Student of Nutrition Science
Universitas Esa Unggul

Leave a Reply

Your email address will not be published.