Berdasarkan studi yang berjudul Obesity in Elderly, obesitas merupakan masalah kesehatan yang harus diperhatikan karena dapat meningkatkan resiko penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, dislipidemia (kolesterol tinggi), dan penyakit jantung. Obesitas dapat menimbulkan stres pada sendi sehingga dapat menyebabkan mobilitas menjadi terbatas. Selain itu, obesitas juga dapat menimbulkan masalah pernafasan seperti apnea tidur obstruktif atau henti nafas saat tidur.

Kelebihan berat badan atau obesitas dapat disebut juga sebagai hasil dari ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang dikeluarkan (energy expenditure) untuk menjalankan fungsi metabolisme dan fisik tubuh. Asupan energi yang dimaksud adalah dalam bentuk kalori, baik yang diperoleh dari makanan atau minuman yang dikonsumsi.

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indeks sederhana dari berat badan terhadap tinggi badan yang digunakan untuk mengklasifikasikan kelebihan berat badan dan obesitas pada orang dewasa. IMT memiliki korelasi positif dengan total lemak tubuh tetapi IMT bukan merupakan satu – satunya indikator yang dapat digunakan untuk mengukur obesitas. Metode lain selain IMT untuk pengukuran antropometri tubuh adalah dengan cara mengukur lingkar perut/lingkar pinggang.

Klasifikasi IMT WHO

KLASIFIKASIIMT
Berat badan kurang (Underweight)< 18, 5
Berat badan normal18, 5 – 22,9
Kelebihan berat badan (Overweight)23 – 24,9
Obesitas I25 – 29,9
Obesitas II>30

Sumber : WHO Western Pacific Region, 2000

Klasifikasi IMT Nasional

KLASIFIKASIIMT
Sangat kurus< 17
Kurus17 –  < 18,5
Normal18,5 – 25,0
Gemuk>25 – 27
Obesitas>27

Sumber: Pedoman Gizi Seimbang, 2014

Klasifikasi Lingkar Perut Asia

KLASIFIKASILINGKAR PERUT
LAKI-LAKIPEREMPUAN
Normal<90 CM<80 CM
Obesitas>90 CM>80 CM

Sumber: Permenkes RI, 2014

Berikut merupakan beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kejadian obesitas diantaranya adalah :

  • Faktor genetik : Obesitas dapat terjadi karena faktor genetik. Jika salah satu dari orangtuanya mengalami obesitas, maka peluang anak-anak menjadi obesitas adalah sebesar 40-50%. Dan jika kedua orangtuanya mengalami obesitas, maka peluang obesitas melalui faktor genetik bertambah menjadi 70-80%.
  • Faktor lingkungan : Faktor lingkungan ternyata juga dapat mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap bahwa gemuk adalah sebuah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan.
  • Faktor Gaya Hidup : Pola makan yang berlebihan serta kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor gaya hidup yang buruk sehingga dapat menyebabkan terjadinya obesitas. Jumlah asupan energi yang berlebihan dapat menyebabkan kelebihan berat badan. Hal tersebut dikarenakan jenis makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (tinggi lemak, gula, serta kurang serat) dapat menimbulkan ketidak seimbangan energi.  Selain itu, Pola aktivitas fisik sedentary (kurang gerak) dapat menyebabkan energi yang dikeluarkan oleh tubuh tidak maksimal sehingga dapat meningkatkan resiko obesitas. Keadaan tersebut akhirnya menjadikan tubuh menjadi surplus energi artinya jumlah kalori dan asupan makan lebih besar dibandingkan dengan jumlah kalori yang seharusnya dikeluarkan untuk aktivitas fisik, hal tersebut menyebabkan terjadinya obesitas.

Dampak – dampak yang akan timbul akibat terjadinya obesitas adalah antara lain :

  • Dampak metabolik, yaitu saat lingkar perut mencapai pada batas ukuran tertentu (Laki-laki >90cm, Perempuan >80cm) akan berdampak pada peningkatan trigliserida dan penurunan kolesterol HDL, serta meningkatkan tekanan darah. Keadaan tersebut dapat disebut sebagai sindroma metabolik.
  • Dampak penyakit lain, penyakit – penyakit yang akan timbul akibat kelebihan berat badan dan obesitas diantaranya adalah asma, osteoartritis lutut dan pinggul, pembentukan batu empedu, sleep apnoea ( henti nafas saat tidur), low back pain (nyeri pinggang), gangguan menstruasi, penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, dislipidemia, serta sirosis hati.

Kemudian untuk cara pencegahan obesitas sendiri dapat dilakukan dengan menjaga pola makan sesuai dengan anjuran gizi seimbang yaitu dengan menerapkan prinsip jenis, jumlah, jadwal. Selain itu juga dapat menerapkan anjuran makan sesuai dengan pedoman “piring makanku” dengan meningkatkan konsumsi sayur, buah, mengganti asupan lemak jenuh menjadi asupan lemak tidak jenuh, meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, gandum, beras merah, membatasi asupan karbohidrat sederhana, membatasi asupan gula, garam, minyak, dan memperbanyak konsumsi air putih, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur, dan menjaga berat badan tetap seimbang.

Lalu bagaimana jika sudah terlanjur terjadi obesitas, kira-kira apa yang dapat dilakukan?

Berikut merupakan langkah – langkah yang dapat dilakukan jika sudah terlanjur terjadi obesitas, antara lain adalah :

  • Menerapkan prinsip pengelolaan obesitas, yaitu dengan cara mengatur keseimbangan energi. Keseimbangan energi yang dimaksud adalah asupan energi yang masuk harus lebih rendah dibandingkan dengan kebutuhan energi yang dikeluarkan. 
  • Mengatur pola makan, pola makan mencakup jumlah, jenis, jadwal, dan pengolahan bahan makanan. Untuk mempermudah hal tersebut dapat mengikuti anjuran pola makan sesuai dengan pedoman gizi seimbang.
  • Pola aktivitas fisik, meningkatkan aktivitas fisik yang gerakannya kontinyu dengan gerakan intensitas rendah sampai dengan gerakan intensitas sedang sehingga terjadi peningkatan jumlah energi yang dikeluarkan dan terjadi peningkatan massa otot. Pola hidup aktif juga merupakan penyeimbang dari asupan energi karena dengan begitu asupan energi yang masuk ke dalam tubuh tidak akan lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan energi yang harus dikeluarkan tubuh.
  • Pola emosi makan, merupakan suatu kebiasaan makan dengan jumlah yanh berlebihan, dan cenderung memilih jenis makanan yang tidak sehat yaitu makanan/minuman yang tinggi gula, garam, dan lemak yang disebabkan oleh emosi atau nafsu bukan karena lapar. Dalam hal ini seseorang harus dibantu dalam mengenali jenis emosinya dan memahami emosi tersebut.
  • Pola tidur/istirahat, kurang tidur atau kurang istirahat dapat menyebabkan hormon ghrelin dan leptin terganggu sehingga menimbulkan rasa lapar yang tidak terkontrol. Kuantitas dan kualitas tidur seseorang akan mempengaruhi keseimbangan berbagai hormon yang pada akhirnya akan memicu kejadian obesitas. Gangguan tidur juga dapat menyebabkan gangguan keseimbangan energi melalui peningkatan rasa lapar yang disebabkan oleh meningkatnya hormon ghrelin (pengontrol rasa lapar) dan menurunnya hormon leptin ( pengontrol rasa kenyang).

Tujuan dari dilakukannya cara untuk menyelesaikan masalah obesitas adalah dengan menurunkan berat badan hingga mencapai batas berat badan ideal dan mempertahankannya. Dengan tercapainya berat badan ideal dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan mengurangi resiko terkena penyakit komplikasi sehingga kualitas hidup pun akan meningkat. Salah satu cara yang paling penting untuk mengatasi masalah obesitas ialah mengubah kebiasaan makan serta mengatur pola makan. Dalam hal ini perlu di ingat bahwa tidak ada diet terbaik untuk obesitas, tetapi anda dapat memilih salah satu diet yang menurut anda akan berhasil dan paling sesuai dengan kondisi yang dialami. Tetapi akan lebih baik jika anda berkonsultasi dengan Ahli Gizi atau dokter spesialis gizi untuk lebih memahami bagaimana mengatur pola makan serta memahami diet yang cocok dengan kondisi serta sesuai dengan kebutuhan anda secara spesifik.

Indri Suci Rahmawati

Ahli Gizi di Rumah Sakit Swasta Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.